Skip to main content
Jenis Kopi Arabika Jenis Kopi Arabika

Pewaris PT Budi Putra Makmur, Komersilkan Ratusan Hektar Lahan Negara

Curup – Pewaris PT Budi Putra Makmur, perusahaan yang selama ini bergerak dalam bidang Usaha Perkebunan dan Pengolahan Kopi Bubuk Arabika kualitas ekspor, diketahui ‘Mengkomersilkan’ ratusan hektar lahan Negara untuk Memperkaya diri sendiri atau Orang lain.

Menurut data dan informasi yang dihimpun di lapangan, menyebutkan, bahwa pada sekitar tahun 1995, PT Budi Putra Makmur mendapat Izin Hak Guna Usaha (HGU) atas lahan Negara seluas 310 hektar di Desa Kayu Manis Kejalo, Kabupaten Rejang Lebong. Sesuai ketentuan Perizinan, kegiatan Usaha perusahaan tersebut selain Menanam Kopi jenis Arabika juga memproduksi bubuk Kopi untuk di Ekspor.

Seorang sumber mengungkapkan, bahwa guna menunjang kegiatan usahanya, PT Budi Putra Makmur disebut-sebut mendapat bantuan Mesin Pengola biji Kopi yang cukup modern. “Dikatakan modern, karena Biji Kopi basah yang masuk ke dalam Mesin  begitu ke luar sudah menjadi Kopi Bubuk dengan kualitas ekspor,” kata sumber yang berulang kali meminta untuk tak ditulis namanya, dengan alasan tidak mau terlibat atau dilibatkan dalam masalah.

Ia juga menjelaskan, bahwa setelah Direktur yang juga pemilik PT Budi Putra Makmur, Indra Bahidin, meninggal dunia pada sekitar tahun 2000 kegiatan Perusahaan dikelola oleh anak-anaknya selaku ahli Waris, salah seorang diantaranya bernama Budi.

Hanya saja, meski masa berlaku HGU baru akan berahir pada tahun 2020, Budi sama sekali tidak melakukan kegiatan usaha sebagaimana ketentuan Perizinan. Budi, justru hanya ‘Memanfaatkan’ lahan untuk kepentingan pribadi dengan cara menyerahkan pengelolaan seluruh lahan kepada para Petani Penggarap melalui sistem ‘Bagi Hasil’.

“Dengan kata lain, seluruh pembiayaan pengolahan lahan mulai dari Pembukaan, Penyediaan Bibit Kopi, Penanaman hingga Pemeliharaan mejadi beban Petani Penggarap, dan Budi hanya menerima setoraan 1/3 (satu pertiga) dari hasil Kebun. Artinya, jika 1 hektar Kebun Kopi yang digarap Petani bisa menghasilkan 3 ton Kopi, maka Budi yang tidak satu rupiah pun mengeluarkan biaya akan menerima bagian 1 ton Kopi,” jelas beberapa petani Penggarap, kepada tobokito.com yang turun langsung ke lapangan.

Disinggung tentang selain sudah berapa luas lahan yang pengelolaannya dialihkan kepada Petani Penggarap dan dialih fungsikan dari penanaman Kopi Arabika ke Robusta, menurut mereka sudah hampir 80 persen dari total seluruh lahan seluas 310 hektar.

Sumber lain berpendapat, bahwa lahan HGU yang Pengelolaannya diserahkan kepada PT Budi Putra Makmur adalah merupakan lahan milik Negara, sehingga para Ahli Waris Perusahaan tersebut tidak berhak mengalih fungsikan di luar ketentutan Perizinan.

”Apalagi sampai Mengalihkan pengelolaannya ke Petani Pengarap dengan meminta bagian pengasilan, meski masa berlaku HGU belum berakir itu jelas-jelas merupakan Perbuatan melawan hukum yang merugikan Keuangan Negara,” tegas sumber. “Karena statusnya adalah lahan Negara, jika toh masa berlaku HGU sudah berakhir dan tidak diperpanjang maka lahan Wajib dikembalikan kepada Negara,” tambahnya.

Menariknya, beberapa Petani Penggarap ada yang menyebutkan, bahwa penguasaan dan pengelolaan lahan di HGU PT Budi Putra Makmur tidak hanya sebatas para Petani, tetapi ada pihak-piak lain yang bukan Petani, “ Yang menggarap di lapangan memang benar Petani, tetapi ‘Pemiliknya’ bukan,” ujar mereka.

Ia juga mempertanyakan tentang masin Pengolah Kopi bubuk Kualitas Ekspor yang disebut-sebut merupakan Bantuan, karena menurutnya jika perusahaan tersebut sudah tidak beroperasi lagi maka Statusnya menjadi milik siapa. “ Terkecuali jika mesin itu memang Mutlak merupakan Harta Kekayaan PT Budi Putra Makmur,  tentu saja tidak ada permasalahan. Tetapi jika merupakan Bantuan, apalagi jika bantuannya dari Pemerintah baik daerah maupun pusat, maka kelanjutan Status kepemilikannya wajib dipertanyakan,” paparnya.(red/sri).

Facebook comments

Adsense Page