Skip to main content
Edy Junaidi Siap 'Bongkar' Habis-Habisan Edy Junaidi Siap 'Bongkar' Habis-Habisan

Dijanjikan tak Tersangka, Ditahan KPK Siap Bongkar Habis

Bengkulu, tobokito.com - Salah seorang dari tiga Pejabat Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu, tersangka ‘Penyuap’ eks Kasi Intel Kejati Bengkulu Parlin Purba yang kini titahan KPK, Edy Junaidi, dengan tegas menyatakan, bahwa ‘Dia’ akan ‘Membongkar’ habis-habisan tentang apapun yang ‘Diketahui’ dan ‘Dirasakan’.

“Dipersidangan nanti akan saya buka habis, baik itu tentang fee proyek maupun terkait rekayasa ‘Persekongkolan’ pemerasan terhadap kami ‘Bertiga’ dengan janji tidak akan menjadi tersangka KPK, asalkan kami mau menyerahkan imbalan sejumlah uang,”  kata Edy Junaidi, dalam suatu pertemuan dengan Pemimpin Redaksi Idealis dan tobokito.con, Chairuddin, MDK, di kediamannya di kawasan Sukamerindu, Bengkulu, beberapa waktu lalu.

‘Tetapi ado duo permintaan Sayo. Pertamo, berita pernyataan Sayo iko ditulisnyo kelak kalu Sayo ‘Ditahan. Keduo, Sayo minta ‘Dang’ bersedia jadi Saksi khususnyo masalah ‘Penyerahan’ Piti dengan Janji Sayo, Fauzi kek Apip idak bakal jadi Tersangka,” pinta Edy Junaidi, dengan menggunakan bahasa daerah, ketika itu.

 “ Sayo berharap ‘Dang’ idak nolak, karena menurut Sayo ‘Dang’ yang bukan sajo tahu tetapi banyak megang data lengkapnyo, termasuk tahu siapo sajo orang yang terlibat” tambah Edy, juga dengan bahasa daerah.  

Menjawab pertanyaan tentang fee proyek di Balai (BWSS VII) Bengkulu, menurut Edy Junaidi, sudah tidak mungkin bisa ditutupi lagi karena Kepala Balai, Abustian, sudah mengakui di Persidangan saat dihadirkan sebagai saksi dengan terdakwa mantan PPK, Amin Anwari, dan Direktur PT Mukomuko Putra Selatan Majunto, Murni Suhardi, terkait OTT mantan Kasi Intel Kejati Bengkulu, Parlin Purba.

“Kata orang pintar, pengakuan Kepala Balai itu kan merupakan Bukti Persidangan. Jadi kalau masalah fee proyek di Balai tidak ada lagi yang harus diragukan.Tinggal lagi KPK mau atau tidak ‘Menyeret’ siapa Penentu Kebijakan dibalik kutipan fee tersebut,” tegas Edi Junaidi, yang diketahui memang cukup berani ‘Mengungkapkan’ tentang siapa saja yang sering ‘Meras’ sebagaimana diwartakan Media Online Reportaei Rakyat edisi, 11 Desember 2017.

Seperti diketahui, juga sebagaimana diwartakan media online Reportase Rakyat edisi penayangan 24 Agustus 2017, Kepala (BWSS VII), Abustian, dihadirkan sebaga saksi pada sidang lanjutan perkara OTT KPK terhadap oknum jaksa dengan terdakwa Murni Suhardi dan Amin Anwari.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Kaswanto SH MH, saksi Abustian ‘Mengakui’ bahwa Instansi yang dipimpinya kerap melakukan penghimpunan dana fee dari proyek yang sedang dikerjakan. Dari fakta di persidangan, dana fee proyek yang dikumpulkan sebesar 3 hingga 6 persen dari total anggaran proyek. Setelah terkumpul, dana fee dikelola oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Deki Agus Prawira.

“Pada saat sidang Saya hadir.  Jadi saya juga memang mendengar sendiri Pengakuan Pak Abustian di Persidangan,” beber Edy Junaidi.

     Sementara saat disinggung tentang aksi ‘Congkel’ ruang kerja yang sudah disegel KPK oleh Kasubag TU BWSS VII,  Deky Gus Prawira, untuk ‘Memusnahkan’ barang bukti berupa uang sebesar Rp. 100 juta, menurut Edy sudah bukan rahasia di internal Balai (BWSS VII).  

“Dari uang sebesar Rp. 100 juta yang sudah saya setorkan ke Deky sesuai Perintah, yang dikembalikan hanya sebesar Rp. 95 juta karena menurut Deky yang Rp. 5 juta sudah terlanjur dibelanjakan oleh anak buahnya.,” paparnya..

“Begitu saya terima dari Deky, hari itu juga langsung saya kembalikan (kepada Kontraktor). Pada awalnya uang tersebut untuk keperluan THR,” tambah Edy, tanpa mau menyebutkan siapa yang dimaksud dengan atas ‘Perintah’ dan siapa nama si Kontraktor.(red/tim)

Facebook comments

Adsense Page