Skip to main content
Pengacara Hotman Paris Hutape Menunjuk Poto Agus Bersujud di PN Denpasar BaliKakinya Pengacara Hotman Paris Hutape Menunjuk Poto Agus Bersujud di Kakinya di PN Denpasar Bali

Advokat, Bukan Sekedar Menang Atau Kalah dan Uang

Catatan Tercecer Chairuddin, MDK

"Jujur, selama 35 tahun Hotman banyak membela orang ’Salah’ menjadi seolah ‘Benar’, dan menghasilkan banyak Uang. Tapi semua uang itu disimpan di Bank dan Tidak Pernah aku lihat setiap hari. Bahkan saat Matipun nanti, Hotman Tidak Akan Pamit sama Uangnya,"  kata Hotman Paris Hutapea. .

“Apa honor Pengacara yang Termahal yang pernah Saya terima, bahkan lebih mahal dari Harga lamborghini? Inilah Honorku Paling Mahal di Dunia. Lihat foto saat klien ku, Agus, Pemuda miskin dari Sumba Bersujud Memeluk Kakiku Mengucapkan Terima Kasih di depan Sidang Pengadilan Denpasar, sesudah Hakim membacakan Vonis yang Menvonis Agus bukan Pelaku Pembunuhan (Angeline) melainkan Ibu tiri Angeline. Sang Ibu tiri dihukum Seumur Hidup oleh Hakim," tulis Hotman.

Ceritanya itu ia Bagikan melalui akun Instagram pribadinya @hotmanparisofficial beberapa waktu lalu, saat ‘Mengunggah’ Poto yang memperlihatkan Agus sedang ‘Bersujud’ di Kakinya di Sidang Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, terkait Pembunuhan terhadap Angeline oleh ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe.

Hotman mengaku, bahwa untuk membela kepentingan hukum Agus, Pemuda sangat Miskin dari Sumbawa, selain sudah menghabiskan waktu tidak kurang dari 3 bulan juga menghabiskan banyak Uang (pribadi).

Sementara itu, sebagaimana dikutif CNN Indonesia beberapa waktu lalu, salah seorang Advokad Ibukota, Palmer Situmorang, memandang, bahwa Advokat adalah Profesi Mulia karena bisa membantu Orang yang sebelumnya tak faham hukum untuk bisa memahami hukum Menurutnya, hukum adalah suatu Hal yang Rumit dan tak semua orang bisa memahami. Sebagai gambaran, meski Klien mengaku sudah melanggar hukum kepada Advokatnya, tetapi selama Jaksa Penuntut Umum tak bisa Membuktikan kesalahan tersebut Advokat harus tetap menjaga Rahasia Klien.

“Tetapi ada satu hal dalam Profesi Advokad, yaitu Moral. Selama seorang Advokat dalam Membela Klien tetap menjaga Moralitas dan tanpa melanggar Aturan Hukum, maka Advokat tersebut bisa dikatakan Profesional dan Berbudi Luhur,” ujar Palmer.

Sebagaimana diketahui, tentunya menjadi fokus utama bagi seorang Advokad atau Pengacara, adalah bagaimana mewujudkan Kinerja sesuai harapan masyarakat, dimana masyarakat bisa mendapatkan Perlindungan dan Pengetahuan terkait persoslan-persolan hukum 

Profesi advokat, hendaklah menjadi Ujung Tombak bagi masyarakat kecil pada umumnya, agar hanya jangan karena Keterbatasan dan Ketidakmampuan secara finansial menjadi terhambat mendapatkan Keadilan dan Perlindungan hukum. Di tengah-tengah masyarakat yang sebagian besar masih ‘Berkeluh Kesah’ akibat menjadi korban Ketidakadilan, bahkan terkadang merasa dibingungkan karena tidak jelasnya Kepastian hukum oleh para Penegak hukum, keberadaan Advokat tentu saja sangat dibutuhkan.

Apalagi dengan adanya fakta yang tak terbantakan, bahwa akibat dari keterbatasan biaya atau bahkan mungkin sama sekali tak memiliki biaya, membuat sebagaian masyarakat yang disegaja atau tidak harus berhadapan dengan persoalan hukum, mereka menjadi tak berdaya dan hanya ‘Pasrah’

Bertitik tolak dari Kondisi seperti di atas, maka peran aktif seorang Advokat bukan saja sangat penting, tetapi memang betul-betul dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat6. Sudah saatnya Advokat tidak lagi ‘Berputar-putra’  pada Perdebatan atau Memunculkan Ego. Yang utama adalah bagaimana Advokat tanggap terhadap Situasi dan Kondisi persoalan hukum yang dialami masyarakat, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak hukum  masyarakat untuk hidup Sejahtera dan Berkeadilan

Pasal 1 angka 1 Bab I Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum,  menyebutkan: “Bantuan Hukum adalah Jasa Hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum”.

Sedangkan penerima Bantuan Hukum adalah Orang atau Kelompok Orang miskin. dan Pemberi Bantuan Hukum adalah Lembaga Bantuan Hukum atau Organisasi Kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum seperti dijelaskan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Pasal 1 Angka 9, Bab I, memberikan Pengertian bahwa ‘Bantuan Hukum adalah Jasa hukum yang diberikan oleh Advokat secara cuma-cuma kepada Klien yang tidak Mampu’.

Bantuan hukum, memiliki ‘Posisi’ cukup penting dalam setiap Sistem Peradilan, baik itu Peradilan Pidana, Perdata, dan Tata Usaha Negara (TUN). Secara umum, bantuan hukum dapat dikatakan mempunyai tujuan, diantaranya; Menjamin dan Memenuhi Hak Hukum dalam Mendapatkan Akses Keadilan. Mewujudkan hak Konstitusional Warga Negara sesuai Prinsip Persamaan Kedudukan di dalam Hukum’, serta Mewujudkan Peradilan yang Efektif, Efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.

Bantuan hukum itu sendiri dijalankan degan berorientasi pada nilai-nilai Kemulian, yaitu aspek kemanusiaan untuk memperjuangkan hak-hak Manusia. Bantuan hukum diberikan kepada semua Orang tanpa membedakan Status Sosial seseorang, sebagaimana berlaku di Negara hukum (rechtsstaat). Pengakuan Negara terhadap Hak hukum individu  sebagai ketentuan pada Pasal 28 D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”.

Akhir-akhir ini, isu Advokat sedang ramai dibicarakan, diantaranya adalah berita-berita yang ‘Mengidentikkan’ Advokat dengan Kemewahan dan Jaminan hidup dengan harta melimpah. Sebenarnya, tidak ada yang Salah dengan Kemewahan hidup seorang Advokad, dan tak ada juga yang Salah dengan Advokat yang menjadi Kaya. Hanya saja, jangan sampai Kemewahan atau Kekayaan dijadikan tujuan hidup dalam menekuni profesi advokat, sehingga harus ‘Menghalalkan’ berbagai cara dan lupa pada Tujuan dan Perjuangan Advokat sebagai Profesi ‘Mulia’ (officium nobile).

Sebenarnya, sebutan ‘Mulia’ itu sendiri tidak datang atau ‘Melekat’ begitu saja pada Profesi Advokat, tetapi dilatar belakangi dengan perjalanan Sejarah panjang penuh Pengabdian terhadap masyarakat. Konon kabarnya, sebutan .kata ‘Mulia’ pada Profesi Advokat diawali pada Zama Romawi, dimana para Bangsawan ketika itu tampil dengan ‘Orasi’ dan ‘Pledoinya’ membela Orang-Orang Miskin dan Buta Hukum yang terjerat masalah hukum  Saat itu belum ada atau belum dikenal ‘Istilah’ Advokat, dan mereka hanya disebut dengan sebutan ‘Preator’.

Para Preator adalah Kaum Bangsawan yang pada dasarnya memiliki Status Sosial tinggi, tetapi memiliki ‘Empati’ atau ‘Kepedulian yang besar kepada rakyat kecil (masyarakat). Mereka tampil dan Membela masyarakat hanya semata-mata atas Panggilan Nurani dan rasa Tanggung Jawab teradap Orang lemah dihadapan Penguasa atau Kekuasaan. Oleh karenanya Profesi Advokat yang awalnya bernama ‘Preator’ amat ‘Dihargai’ dan ‘Dimuliakan’ orang, sehingga dinamakan ‘officium nobilium’ atau Profesi yang Mulia.

Seiring dengan berjalannya waktu, Advokat menjadi suatu Profesi sekaligus Mata Pencaharian yang Memberikan Jasa-Jasa hukum kepada Pencari Keadilan atau ‘Klien’, dengan menerima Imbalan Jasa (legal fee) atau honorarium.

Hanya saja, honorarium yang diterima bukan berarti Advokat melakukan Jual-Beli atau ‘Dagang’ perkara, melainkan dia diberi Honorarium sebagai Penghormatan atas Jasa hukum yang diberikan secara Profesional dan Terhormat. Oleh karena itu, menjadi ‘Berlebihan jika setiap ‘Orang’ yang meminta bantuan pendampingan hukum kepada Advokat karena tak faham hukum atas perkara hukum yang dihadapi, kemudian langsung ‘Dikatagorikan’ sebagai ‘Orang’ yang memiliki Kemampuan Finansial (Uang Banyak) untuk Membayar jasa seorang Advokat (Pengacara).

Sebab dalam menjalankan profesi yang terbilang ‘Mulia, dapat dipastikan dan diyakini jika Advokat tidak semata-mata hanya sekedar Berorientasi tentang Menang atau Kalah dalam berperkara, dan tidak juga sekedar berharap mendapatkan Uang banyak atas Jasa-Jasa hukum yang diberikan kepada ‘Klien’ (masyarakat). Brapo Advokat - Penulis adalah Pemimpin Redaksi Idealis dan tobokito.com 

Facebook comments

Adsense Page